Sunday, October 16, 2011

SEMNAS (Seminar Nasional) Ekonomi Islam 2011 dan RAPIMNAS (Rapat Pimpinan Nasional)

Tema : "Peran Pendidikan dalam Memajukan Ekonomi Islam di Indonesia"

Pembicara:
1. Dr. Aries Mufti (Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah)
2. Ali Sakti, M.Ec (Peneliti Junior Bank Indonesia)
3. Dr. Agustianto Mingka (Ketua 1 Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia)
4. Dr. Euis Amalia (Kepala Jurusan Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Pelaksanaan seminar nasional akan berlangsung di:
tempat : kampus A, Universitas Negeri Jakarta. Rawamangun-Jakarta Timur.
tanggal : 22 Oktober 2011
waktu : Pukul 09.00 - Selesai

Dibuka Pendaftarannya dengan ketentuan pendaftaran :
• mengisi formulir pendaftaran
• formulir dapat didownload di www.kseifeunj.blogspot.com atau
http://www.4shared.com/file/8_R58N9Y/Formulir_Penda
ftaran_SEMNAS_RA.html

• lalu kirim via email ke rapimnassemnas@gmail.com
• mentransfer uang pendaftaran: no rekening Muamalat 0148314173 atas nama Muhammad Prakoso Putra

Biaya Pendaftaran peserta
• Mahasiswa : Rp 35.000/ orang
• Umum : Rp 50.000/ orang
• FoSSEI : Rp 150.000/orang** (Khusus untuk para delegasi Rapimnas)


jumlah peserta terbatas...
SEGERA mendaftar...
Batas Pendaftaran : 19 Oktober 2011

contact person : 085717981488 (Antoni Nurhuda)






Seminar Nasional Ekonomi Islam 2011

Sunday, October 2, 2011


Duhai, betapa indahnya jika kita bisa membahagiakan orang tua kita. Orang tua yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Orang tua yang telah mendidik dan merawat kita sedari kecil. Orang tua yang telah mengerahkan segala yang mereka punya demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Terima kasihku yang tak terhingga untukmu wahai Ayah Ibu.

Allah berfirman, yang artinya, “Dan Rabbmu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.” (Qs. Al Israa’ 23)

Alangkah bahagianya seorang anak yang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mendapatkan dukungan dari orangtuanya.
Akan tetapi, bagaimana jika orang tua melarang kita melakukan kebaikan berupa ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya? Keistiqomahan kita, bahkan bagaikan api yang menyulut kemarahan mereka.
Di antara mereka bahkan ada yang menyuruh pada perbuatan yang dilarang Allah? Bagaimanakah seharusnya sikap kita?
Jika teringat kewajiban kita untuk berbakti pada mereka, terlebih teringat besarnya jasa mereka, berat hati ini untuk mengecewakan mereka. Sungguh hati ini tak tega bila sampai ada perbuatan kita yang menjadikan mereka bermuram durja.
Kaidah Birrul Walidain
Saudariku, durhaka atau tidaknya seorang anak tetaplah harus dipandang dari kacamata syariat. Tak semua anak yang melanggar perintah orang tua dikatakan anak durhaka. Karena ketaatan pada orang tua tidak bersifat mutlak. Tidak sebagaimana ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang sifatnya mutlak.
Ada beberapa hal yang sering dianggap sebagai kedurhakaan pada orang tua, padahal sebenarnya bukan. Antara lain:
1. Anak menolak perintah orangtua yang melanggar syariat Islam
Pada asalnya, seorang anak wajib taat pada orangtuanya. Akan tetapi jika yang diperintahkan orang tua melanggar syariat, maka anak tidak boleh mentaatinya. Yaitu jika orang tua memerintahkan anak melakukan kesyirikan, bid’ah dan maksiat. Contoh konkritnya: orang tua memerintahkan anak memakai jimat, orang tua menyuruh ngalap berkah pada kyai A, orang tua menyuruh anak berjabat tangan dengan lelaki bukan mahrom, dll. Maka, saat sang anak menolak hal tersebut tidaklah dikatakan durhaka. Bahkan ini termasuk bakti kepada orang tua karena mencegah mereka dari perbuatan haram.
Allah berfirman yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Qs. Luqman: 15)
Namun, seorang anak hendaknya tetap menggunakan adab dan perkataan yang baik. Dan terus mempergauli dan mendakwahi mereka dengan baik pula.
2. Anak tidak patuh atas larangan orangtua menjalankan syariat Islam
Tidak disebut durhaka anak yang tidak patuh saat orangtuanya melarang sang anak menjalankan syariat Islam, padahal di saat itu orang tua sedang tak membutuhkannya (misal karena orang tua sedang sakit atau saat keadaan darurat). Contoh konkritnya: melarang anaknya shalat jama’ah, memakai jilbab, berjenggot, menuntut ilmu syar’i, dll.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah wajib mentaati makhluk yang memerintah agar maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad). Dan di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan pula bahwasanya ketaatan hanya dilakukan dalam perkara yang baik. Maka janganlah engkau melakukan perkara yang haram dengan alasan ingin berbakti pada orang tuamu. Tidak wajib bagimu taat pada mereka dalam bermaksiat pada Allah.
3. Orang tua yang marah atas keistiqomahan dan nasihat anaknya
Seorang anak wajib menasihati orang tuanya saat mereka melanggar syariat Islam. Apabila orang tua sakit hati dan marah, padahal sang anak telah menggunakan adab yang baik dan perkataan yang lembut, maka hal ini tidak termasuk durhaka pada orang tua.
Saat gundah menyapamu, …
Bagaimana ini, aku telah membuat orang tuaku marah?
Padahal bukankah keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Tirmidzi)?
Saudariku, marahnya orang tua atas keistiqomahan dan nasihat anak, tidaklah termasuk dalam hadits di atas. Hadits di atas tidak berlaku secara mutlak, kita tetap harus melihat kaidah birrul walidain.

Ingatlah saat Nabi Ibrahim menasihati ayahnya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah.” (Qs. Maryam: 44). Orang tua yang menolak kebenaran Islam kemudian mendapat nasihat dari anaknya, kemungkinan besar akan marah. Tapi sang anak tetap tidak dikatakan durhaka.
Saudariku, bila orangtuamu marah atas keistiqomahanmu, maka ingatkan dirimu dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang membuat Allah murka karena ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yang ingin ia peroleh ridhanya dengan membuat Allah murka itu akan murka padanya. Dan siapa yang membuat Allah ridha sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah menjadikan orang yang memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi si hamba dan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang yang semula murka tersebut.” (HR. Ath Thabrani)
Subhanallah. Perhatikanlah hadits di atas! Ketika engkau menaati orang tuamu dalam bermaksiat pada Allah, agar orang tuamu ridha. Sedangkan sebenarnya Allah Murka padamu. Maka, bisa jadi Allah justru akan membuat orang tuamu tetap murka pula kepadamu. Meski engkau telah menuruti keinginan mereka.
Dan sadarkah engkau, saat engkau menuruti mereka dalam perbuatan maksiat pada Allah, maka sejatinya perintah mereka akan terus berlanjut. Tidakkah engkau khawatir Allah akan murka pada orangtuamu disebabkan mereka terus memerintahkanmu bermaksiat kepada-Nya.

Saudariku, bukankah hati kedua orang tuamu berada di genggaman Allah. Maka, yang terpenting bagimu adalah berusahalah meraih ridha Allah dengan keshalihan dan keistiqomahanmu. Semoga dengan demikian Allah Ridha padamu. Semoga Allah menghiasi ucapan dan amalan kita sehingga orang tua kita pun -bi idznillah- akhirnya ridha kepada kita.
Akhlaq Mulia, Penarik Hati yang Banyak Dilalaikan
Ustadz Abdullah Zaen, Lc dalam bukunya 14 Contoh Praktek Hikmah dalam Berdakwah berkata, “Kerenggangan antara orangtua dan anak itu seringkali terjadi akibat ‘benturan-benturan’ yang terjadi dampak dari orang tua yang masih awam memaksa si anak untuk menjalani beberapa ritual yang berbau syirik, sedangkan si anak berpegang teguh dengan kebenaran yang telah ia yakini. Akhirnya yang terjadi adalah kerenggangan di antara penghuni rumah tersebut. Hal itu semakin diperparah ketika si anak kurang bisa mencairkan suasana dengan mengimbangi kesenjangan tersebut dengan melakukan hal-hal yang bisa membahagiakan orangtuanya. Padahal betapa banyak hati orang tua -bi idznillah- yang luluh untuk menerima kebenaran yang dibawa si anak bukan karena pintarnya anak beragumentasi, namun karena terkesannya sang orang tua dengan akhlak dan budi pekerti anaknya yang semakin mulia setelah dia ngaji!! Penjelasan ini sama sekali tidak mengecilkan urgensi argumentasi yang kuat, namun alangkah indahnya jika seorang muslim apalagi seorang salafi bisa memadukan antara argumentasi yang kuat dengan akhlak yang mulia!.”
Maka, akhlaq yang mulia adalah jalan terdekat menuju luluhnya hati orangtua. Anak adalah mutiara hati orang tua. Saat mutiara itu bersinar, hati orang tua mana yang tidak menjadi terang.
Percaya atau tidak. Kedekatanmu kepada mereka, perhatianmu, kelembutanmu, bahkan hanya sekedar wajah cerah dan senyummu di hadapan mereka adalah bagaikan sinar mentari yang menghangatkan hati mereka.
Sayangnya, banyak dari kita yang justru melalaikan hal ini. Kita terlalu sibuk dengan tuntutan kita karena selama ini orangtua-lah yang banyak menuruti keinginan kita. Seakan-akan hanya orangtua-lah yang wajib berlaku baik pada kita, sedang kita tidak wajib berbuat baik pada mereka. Padahal, kitalah sebagai anak yang seharusnya lebih banyak mempergauli mereka dengan baik.
Kita pun terlalu sibuk dengan dunia kita. Juga sibuk dengan teman-teman kita. Padahal orang tua hanya butuh sedikit perhatian kita. Kenapakah kita begitu pelit mengirimkan satu sms saja untuk menanyakan kabar mereka tiap hari? Sedangkan berpuluh-puluh SMS kita kirimkan untuk sekadar bercanda ria dengan teman kita.
Kemudian, beratkah bagi kita untuk menyenangkan mereka dengan hadiah? Janganlah engkau remehkan meski sekedar membawa pulang oleh-oleh seplastik singkong goreng kesukaan ayah atau sebungkus siomay favorit ibu. Harganya memang tak seberapa, tapi hadiah-hadiah kecil yang menunjukkan bahwa kita tahu apa kesukaan mereka, apa yang mereka tak suka, dan apa yang mereka butuhkan, jauh lebih berharga karena lebih menunjukkan besarnya perhatian kita.
Dakwahku, Bukti Cintaku Kepada Ayah Ibu…
Hakikat kecintaan kita terhadap seseorang adalah menginginkan kebaikan bagi dirinya, sebagaimana kita menginginkan kebaikan bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak akan sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sehingga dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, wujud kecintaan kita kepada orangtua kita adalah mengusahakan kebaikan bagi mereka.
Tahukah engkau kebaikan apa yang dimaksud?

Seorang ayah telah berbuat baik kepada anaknya dengan pendidikan dan nafkah yang diberikan. Sedangkan ibunya telah merawat dan melayani kebutuhan anak-anaknya. Maka sudah semestinya anaknya membalas kebaikan tersebut. Dan sebaik-baik kebaikan adalah mengajak mereka kepada kebahagiaan dan menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.” (Qs. At Tahrim 6)
Saudariku, jika engkau benar-benar mencintai orangtuamu, maka jadikanlah dakwahmu sebagai bakti terindahmu kepada mereka. Ingatlah lagi mengenai dakwah Nabi Ibrahim kepada orangtuanya. Bakti pada orang tua sama sekali tidak menghalangi kita untuk berdakwah pada mereka. Justru karena rasa cintalah, yang membuat kita menasihati mereka. Jika bukan kita, maka siapakah lagi yang akan mendakwahi mereka?
Apakah harus dengan mengajak mereka mengikuti kajian? Jika bisa, alhamdulillah. Jika tidak, maka sesungguhnya ada banyak cara yang bisa engkau tempuh agar mereka bisa mengetahui ilmu syar’i dan mengamalkannya.
Jadilah engkau seorang yang telaten dan tidak mudah menyerah dalam berdakwah kepada orang tuamu.
Ingatlah ketika engkau kecil. Ketika engkau hanya bisa tidur dan menangis. Orangtuamulah yang mengajarimu, mengurusmu, memberimu makan, membersihkanmu dan memenuhi kebutuhanmu. Ketika engkau mulai merangkak, kemudian berdiri, dengan sabar orangtuamu memegang tanganmu dan melatihmu. Dan betapa senangnya hati orangtuamu melihat langkah kaki pertamamu. Bertambah kesenangan mereka ketika engkau berjalan meski dengan tertatih-tatih. Saat engkau telah bisa berlari-lari, pandangan orangtuamu pun tak lepas darimu. Menjagamu dari melangkah ke tempat yang berbahaya bagimu.

Ketika engkau mulai merasa letih berdakwah, ingatlah bahwasanya orangtuamu telah membesarkanmu, merawatmu, mendidikmu bertahun-tahun tanpa kenal lelah.
Ya. Bertahun-tahun mereka mendidikmu, bersabar atas kenakalanmu… Maka mengapakah engkau begitu mudahnya menyerah dalam berdakwah kepada mereka? Bukankah kewajiban kita hanyalah menyampaikan, sedangkan Allah-lah Yang Maha Pemberi Hidayah. Maka teruslah berdakwah hingga datang waktunya Allah Membuka hati kedua orangtua kita.
Landasi Semuanya Dengan Ilmu
Seorang anak dengan sedikit ilmu, maka bisa jadi ia akan bersikap lemah dan mudah futur (putus asa) saat menghadapi rintangan dari orangtuanya yang sudah banyak makan garam kehidupan. Bahkan, ia tidak bisa berdakwah pada orang tuanya. Sedangkan seorang anak yang ilmunya belum matang, bisa jadi ia bersikap terlalu keras. Sehingga orangtuanya justru makin antipati dengan dakwah anaknya.
Maka, bekalilah dirimu dengan ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salafush shalih. Karena dengan ilmulah seorang mampu bersikap bijak, yaitu mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Dengan ilmulah kita mengetahui hukum dari permasalahan yang kita hadapi dan bagaimana solusinya menurut syariat. Dengan ilmulah kita mengetahui, pada perkara apa saja kita harus menaati orang tua. Pada perkara apa sebaiknya kita bersikap lembut. Dan pada perkara apakah kita harus teguh layaknya batu karang yang tetap berdiri tegak meski berkali-kali dihempas ombak. Dan yang tidak kalah pentingnya kita bisa berdakwah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.
Maka tidak benar jika saat terjadi benturan sang anak justru berputus asa dan tidak lagi menuntut ilmu syar’i. Padahal dia justru sangat butuh pada ilmu tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahannya. Saat terjadi konflik dengan orang tua sehingga engkau kesulitan mendatangi majelis ilmu, usahakanlah tetap menuntut ilmu meski hanya sekedar membaca buku, mendengar rekaman kajian atau bertanya kepada ustadz. Dan segeralah kembali ke majelis ta’lim begitu ada kesempatan. Jangan lupa! Niatkanlah ilmu yang kau cari itu untuk menghilangkan kebodohan pada dirimu dan orang lain, terutama orangtuamu. Karena merekalah kerabat yang paling berhak atas dakwah kita.

Karena itu, wahai saudara/iku…
Istiqomahlah!
Dan bingkailah keteguhanmu dengan ilmu dan amal shalih
Hiasilah dirimu di depan orangtuamu dengan akhlaq yang mulia
Tegar dan sabarlah!
Tegarlah dalam menghadapi rintangan yang datang dari orangtuamu.
Dan sabarlah dalam berdakwah kepada orang tuamu
Tetap istiqomah dan berdakwah. Sambil terus mendoakan ayah dan ibu
Hingga saat datangnya pertolongan Allah…
Yaitu saat hati mereka disinari petunjuk dari Allah
insyaa Allah
Teriring cinta untuk ibu dan bapak…
Semoga Allah Mengumpulkan kita di surga Firdaus-Nya. Amiin.

Ayah, Ibu… Biarkan Ananda Istiqomah


Beberapa kampus negeri dan swasta memang memiliki kampus yang luas, seperti kampus universitas Indonesia Depok yang sangat luas dan diselingi hutan, Universitas Hasanudin Makassar yang bahkan angkutan umum masuk ke dalam kampus karena jarak yang jauh antara gedung kuliah dan jalan utama. Atau kampus yang memiliki lebih dari satu kompleks, seperti Universitas Negeri Jakarta  Rawamangun atau Institut Pertanian Bogor atau Universitas Dipenogoro Semarang. Saya sendiri berasal dari kampus yang yang kecil, di Institut Teknologi Bandung mahasiswa hanya butuh waktu 5-10 menit untuk berjalan dari gerbang depan ke depan belakang, dan hanya membutuhkan waktu 2 jam saja untuk menutup semua mading kampus dengan publikasi lembaga dakwah.
Jawaban saya akan pertanyaan ini bersumber dari diskusi saya dengan kader dakwah dari kampus lain, terutama dari kampus yang pernah saya kunjungi. Tantangan yang dihadapi dalam kondisi ini biasanya terkait syiar kampus dan koordinasi dakwah. Dua fokus inilah yang akan jadi pendekatan saya menjawab pertanyaan ini. Sebelumnya saya akan mengklasifikasikan kondisi geografis kampus untuk memudahkan pendekatan, yakni:
  1. Kampus memiliki lebih dari satu kompleks yang sangat berjauhan ( subjek pengamatan : IPB dan UNPAD)
  2. Kampus memiliki lebih dari satu kompleks, akan tetapi jarak tidak terlalu jauh ( subjek pengamatan  : UNJ )
  3. Kampus yang hanya satu fakultas saja yang terpisah dari kompleks kampus utama ( subjek pengamatan : UNAND )
  4. Kampus yang sangat luas dari segi geografis ( subjek pengamatan : UNHAS dan UI )
Empat klasifikasi ini akan menggunakan pendekatan tersendiri. Jawaban yang akan saya berikan merupakan gabungan dari pendapat kader dari kampus yang menjadi subjek  pengamatan dan pandangan ideal menurut saya pribadi. Sehingga mungkin ada perbedaan dari apa yang saya tuliskan dengan kenyataan di kampus yang menjadi subjek pengamatan.
Kampus memiliki lebih dari satu kompleks yang sangat berjauhan
Ada kampus yang dibangun di dua atau mungkin lebih kompleks yang dalam jarak yang berjauhan, selain IPB, UNPAD Bandung juga memiliki 2 kampus yang berjauhan. Saya akan melihat dengan kondisi di IPB terlebih dahulu. Ada dua kampus yang berjarak sekitar 10 km dan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. IPB yang saya kenal adalah kampus yang memiliki kader dalam jumlah yang sangat banyak, dan memiliki masa Tahap Persiapan Bersama yang di asramakan. Kebijakan yang dibangun di kampus ini adalah membangun dua Lembaga dakwah, yang masing-masing berdomisili di masing-masing komplek kampus. Al Hurriyah dan Al Ghifary, dua lembaga dakwah kampus ini memiliki kebijakan dan arahan dakwah masing-masing akan tetapi tetap berkoordinasi dalam Forum Silahturahim LDK IPB untuk sinergisasi gerak dakwah.
Di UNPAD yang satu kampus berada di daerah jatinangor dan satu lagi di kota Bndung, kebijakan yang diambil adalah mengoptimalkan Lembaga dakwah di tingkat fakultas untuk mengoptimalkan gerak dakwah di masing-masing fakultas. Mereka tetap dengan satu lembaga dakwah tingkat kampus, akan tetapi ada penanggungjawab (PJ) LDK FKDF di kompleks UNPAD Bandung.  PJ ini bertugas untuk mengkordinir lembaga dakwah fakultas yang ada di kompleks kampus tersebut. Untuk agenda syiar skala kampus biasanya tempat kegiatan berpindah-pindah, dan bergantian antara kampus jatinangor dan kampus bandung.
Kampus memiliki lebih dari satu kompleks, akan tetapi jarak tidak terlalu jauh
Universitas Negeri Jakarta di daerah Rawamangun adalah kampus yang memiliki kompleks dua buah. Mereka menyebutnya Kampus A dan Kampus B, pembagian fakultas memang tidak merata, di kampus B hanya ada dua Fakultas, yakni MIPA dan Olahraga. Kebijakan yang diambil di kampus ini adalah tetap dengan satu komando dalam satu lembaga dakwah tingkat kampus. Dimana fungsi utama lembaga dakwah tingkat kampus adalah mengkoordinir dan menstimulus pergerakan di tingkat fakultas. lagi-lagi memang untuk kampus yang secara geografis luas, pendekatan dengan lembaga dakwah fakultas merupakan cara yang sangat jitu. Untuk agenda syiar biasanya diadakan di kampus A yang lebih banyak mahasiswanya dan juga menjadi basecamp dari lembaga dakwah kampusnya. Untuk “membawa” massa dari kampus A ke kampus B tidak begitu jadi masalah karena jarak yang hanya kurang dari 500 m saja. Media yang digunakan untuk mengajak dengan publikasi dan ajakan individu kader di masing-masing fakultas.   Sejauh pengamatan saya kebijakan ini berjalan dengan baik karena lembaga dakwah fakultas dapat menjalankan perannya dengan sangat baik. Pendekatan dakwah lebih intens dilakukan oleh lembaga dakwah tingkat fakultas, pengelolaan independen dari kaderisasi dan syiar dilakukan di fakultas.
Kampus yang hanya satu fakultas saja yang terpisah dari kompleks kampus utama
Biasanya ini terjadi pada kampus yang mempunyai fakultas kedokteran. Saya mengambil contoh UNAND dengan alasan kebetulan ketika menulis tulisan ini, saya sedang berada di Kota Padang. UNAND memiliki dua kampus. Kampus utama diatas bukit dan kompleks fakultas kedokteran UNAND di daerah Jati,  Kota Padang, mereka sering menyebut UNAND bawah. LDK FKI Rabbani UNAND cukup berperan besar dalam gerak dakwah di UNAND, LDF tetap ada, tetapi menurut pengamatan saya kekuatan LDK disini cukup besar. Sehingga beberapa agenda skala kampus dilakukan secara rutin. Untuk penanganan di kampus FK, didirikan SKI ( LDF ) tersendiri yang mengelola kaderisasi dan syiar secara mandiri. Sejauh ini syiar skala kampus selalu diadakan di kampus atas, dan sulit untuk mengajak massa non-kader dari kampus FK untuk mengikuti acara syiar di kampus atas. Mungkin bagian ini cocok dengan seluruh FK di seluruh Indonesia. Adanya FULDFK ( forum ukhwah lembaga dakwah fakultas kedokteran ) bisa menstimulus gerak dakwah di fakultas kedokteran yang relatif panjang karena ditambah pula dengan massa Koas. Saya sangat merekomendasikan untuk menguatkan dakwah di tingkat fakultas terkait kondisi ini.
Kampus yang sangat luas dari segi geografis
Bagi yang baru datang ke kampus UI Depok Anda pasti tidak akan langsung bisa menghafal dimana FE, dimana FT, dimana FH dan sebagainya. Karena memang luasnya kampus ini. Begitupula kampus UNHAS Makassar yang juga memiliki kampus yang sangat besar pula. Saya mengamati pada kampus yang besar secara geografis ini kekuatan LDK dalam menyentuh langsung massa kampus tidak begitu kuat. Apalagi dengan lembaga dakwah tingkat fakultas yang sangat kuat, dan memang untuk kondisi kampus yang besar secara geografis memang yang harus diutamakan kekuatan lembaga dakwah tingkat fakultas. lembaga dakwah tingkat kampus bisa dengen mengadakan sesekali agenda dakwah skala kampus dan membuat sinergisasi antara LDF, seperti membuat arahan dakwah bersama, isu bersama dan lainnya. Sehingga effort yang dikeluarkan lembaga dakwah tingkat pusat sedikit, akan tetapi karena didukung oleh lembaga dakwah tingkat fakultas, gerak dakwah tetap akan terasa. Fungsi lembaga dakwah tingkat fakultas dapat difokuskan kearah eksternal kampus, seperti menanggapi isu nasional, membantu akselerasi kampus lain, atau membangun jaringan skala internasional.

Strategi Dakwah di Kampus yang Luas dan Tidak Satu Kompleks


Bagaimana gambaran besar seluruh ruang lingkup dakwah kampus ?

Saya akan memapaparkan mengenai paradigma untuk memandang apa saja yang berada dalam lingkup dakwah kampus dengan panduan matriks diatas. Secara garis besar ada empat bidang utama yang perlu dipenuhi dalam dakwah kampus ini, yakni ; (1) kaderisasi, (2) syiar dan pelayanan, (3) sosial kemasyarakatan, dan (4) akademik dan profesi. Keempat ini perlu dipenuhi secara bersamaan agar dakwah kampus yang dilakukan di kampus Anda dapat berjalan secara optimal.Dakwah kepada mahasiswa memang menjadi sasaran utama dakwah kampus, akan tetapi pada tahap lebih lanjut dakwah kampus ternyata melingkupi seluruh civitas akademika  di sebuah perguruan tinggi, bahkan lingkup masyarakat luas. Peran sentral mahasiswa yang mampu melakukan mobilisasi secara horizontal dan vertikal menjadi alasan utama mengapa dakwah kampus dipandang sebagai dakwah yang sangat luas.

Kaderisasi
Pembinaan dan pembentukan seorang yang berkepribadian Islam adalah lingkup pertama dari dakwah kampus. Banyak kader yang menganggap lembaga dakwah adalah lembaga kaderisasi, memang itu adanya, dan pendapat itu sangat benar. Sebagai sebuah lembaga dakwah memang dituntut untuk dapat memberikan asupan ilmu yang cukup bagi kadernya. Dengan berbasiskan profil kader yang diharapkan dapat terbentuk.
Porsi dari kaderisasi dalam sebuah lembaga dakwah sangat besar, karena peran kader dalam dakwah ada sebagai sumbu putar bagi roda dakwah, semakin solid dan militan seorang kader dakwah, akan berdampak pada lebih kuat dan cepatnya perputaran agenda dakwah yang ada.
Pola pembinaan yang baik akan membentuk manusia unggul dan manusia unggul akan selalu dapat memperbaiki pola pembinaan yang ada untuk membentuk manusia lebih unggul lainnya dimasa yang akan datang. Berhubung kita juga ingin melihat masa depan dakwah yang lebih cerah dan berkembang, maka kader yang dibentuk ini, tidak hanya dapat bermanfaat bagi dirinya dan umat di masa kini, akan tetapi ia juga harus bermanfaat bagi masa depan dirinya dan perbaikan masa depan organisasi dakwah yang membinanya.
Karakter seorang muslim yang ideal bisa menjadi parameter dari capaian proses kaderisasi yang dijalankan. Bentuk dari agenda kaderisasi yang dijalankan dapat dengan metode yang variatif dan memiliki koridor kurikulum yang tegas. Basis pembinaan yang dibentuk dalam sebuah lembaga dakwah kampus akan sangat menentukan kemampuan sebuah lembaga dakwah untuk memenuhi lingkup dakwah kampus yang lainnya.

Syiar dan Pelayanan
Syiar adalah proses menyampaikan risalah Islam kepada banyak umat manusia. Syiar ini sering pula diartikan sebagai kegiatan menyemarakkan sebuah lingkungan dengan nilai Islami. Syiar juga bisa diartikan sebagai proses penyampaian pesan kepada objek dakwah. Sedangkan pelayanan adalah sebuah mekanisme memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh seseorang dengan harapan seseorang dapat merasa nyaman dan tenang di sebuah lingkungan.
Syiar dan pelayanan yang dilakukan dalam dakwah kampus juga akan berkutat pada definisi yang ada. Dimana syiar Islam yang dilakukan oleh lembaga dakwah kampus diharapkan dapat berperan besar dalam transformasi masyarakat di sebuah kampus. Syiar Islam yang baik adalah ketika syiar ini mampu menjadi trendsetter dari sebuah lingkungan. sebagai contoh, ajakan untuk tilawah rutin di sebuah lingkungan kampus, parameter keberhasilannya adalah semakin banyak orang dalam lingkungan tersebut yang tilawah dan ada perasaan aneh bagi seseorang dalam lingkungan tersebut jika tidak rutin tilawah.  Karena syiar ini berperan juga sebagai alat propaganda nilai dan corong opini. Harapannya memang syiar yang dilakukan dapat mencerahkan sebanyak mungkin objek dakwah, agar semakin banyak objek dakwah yang bersedia untuk mendalami Islam lebih lanjut.
Pelayanan dalam bahasa dakwah adalah mencoba memberikan sebuah pelayanan dengan harapan mendapatkan kepercayaan dari objek dakwah. Bentuk pelayanan di kampus sangat banyak, saya akan memebri contoh hal yang sederhana, seperti ; (1) jadwal imsakiyah , (2) informasi beasiswa, (3) konsultasi karir masa depan,dan (4) pelatihan entrepreneurship. Empat contoh sederhana ini adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh mahasiswa sebagai objek dakwah kita. memang terkadang pelayanan yang diberikan tidak berhubungan langsung dengan transfer nilai Islam, akan tetapi meraih kepercayaan objek dakwah adalah sebuah langkah penting yang perlu ditempuh untuk mendapatkan simpati objek dakwah. Ketika seorang merasa terlayani kebutuhannya oleh lembaga dakwah, ia bisa jadi tercerahkan untuk hadir dalam agenda dakwah yang dilakukan.

Akademik dan Profesi
Dakwah kampus juga perlu memikirkan mengenai kompetensi akademik seorang kader, karena berhubungan langsung dengan tujuan dakwah kampus ; suplai alumni yang berafiliasi terhadap Islam, alumni yang akan di suplai bukanlah alumni yang tidak berkompeten, ia tidak cukup hanya memiliki afiliasi terhadap Islam, ia diharapkan memiliki kelebihan kompetensi yang memungkinkan dirinya untuk berkontribusi bagi masyarakat. kompetensi inilah yang perlu ditempa oleh dakwah kampus terhadap kader dan simpatisanya. Pemberian tutorial sejak dini, penjagaan IPK kader, bimbingan karir sejak tingkat 2, persiapan pasca-kampus sejak awal tingkat 4 adalah contoh bentuk aplikasi dari lingkup kompetensi akademik ini.
Selain itu kader dan simpatisan dapat berkompetisi dalam lomba akademik yang ada, keberhasilan mereka dalam perlombaan ini akan berdampak pada positifnya citra dari dakwah itu sendiri. Untuk kampus yang sudah lama bergulir dakwahnya, maka dakwah ke dosen juga bisa menjadi tujuan. Dengan adanya dosen yang berpengaruh dan mendukung dakwah kampus, akan menjadi keutungan tersendiri bagi dakwah yang Kita lakukan.

Sosial Kemasyarakatan
Dakwah kampus juga harus melatih kadernya untuk peduli pada masyarakat. kepedulian ini tidak hanya dalam bentuk bakti sosial yang eksidental, akan tetapi tetap pada jalur perjuangan mahasiswa yang selalu bersama rakyat. Perjuangan ini bisa dalam bentuk yang lebih real dan kontinyu, seperti rumah belajar untuk anak miskin, pusat ketrampilan kerja, BMT, atau koperasi simpan pinjam untuk membantu modal masyarakat dalam berusaha. Menjadi corong opini keresahan masyarakat, seperti isu pornografi, aliran sesat, perjudian, dan isu moral lain. Dakwah kampus diharapkan dapat berperan untuk memenuhi peran ini dengan baik. Jangan sampai dakwah kampus hanya berkutat pada permasalahan internal yang tidak kunjung selesai, akan tetapi keterlibatan dakwah kampus dalam menunjang kehidupan masyarakat adalah sebuah harapan tersendiri dari masyarakat. Ingat ! berjuta rakyat menanti uluran tanganmu

Paradigma Dakwah Kampus